Pages

Sabtu, 14 Juli 2012

Pandangan tokoh - tokoh islam mengenai pendidikan islam


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
            Masalah Pendidikan merupakan kepentingan yang memperoleh prioritas utama sejak awal kehidupan manusia. Bahkan Rasululloh sendiri telah mengisyaratkan bahwa proses belajar bagi setiap insan adalah sejak ia masih dalam kandungan ibunya sampai ia mendekati liang kuburnya. Sebagai agama yang mengutamakan pendidikan, maka sepanjang kurun kehidupan islam hingga kini telah muncul banyak ahli pikir menyumbangkan buah pikirannya dalam bidang pendidikan khususnya, maupun dalam berbagai bidang lainnya.
            Tokoh-tokoh yang termashur antara lain Ibnu Sina, beliau banyak memberikan saham dalam meletakkan dasar-dasar pendidikan islam. Al-Ghozali, beliau menekankan pada tugas pendidikan yang mengarah pada realisasi tujuan keagamaan dan ahklak. Kemudian Ibnu Khaldun yang berpendapat bahwa tidak cukup seorang guru hanya membekali anak dengan ilmu pengetahuan saja tetapi guru wajib memperbaiki metode dalam penyajian ilmu kepada anak didiknya.

B. Rumusan Masalah
1.    Bagaimanakah pemikiran dan pandangan Ibnu khaldun tentang pendidikan Islam ?
2.    Bagaimanakah pemikiran dan pandangan Ibnu Sina tentang pendidikan Islam ?
3.    Bagaimanakah pemikiran dan pandangan Al-Ghazali tentang pendidikan Islam ?

C. Tujuan Pembahasan Masalah
1. Untuk mengetahui pemikiran dan pandangan Ibnu khaldun tentang pendidikan Islam
2. Untuk mengetahui pemikiran dan pandangan Ibnu Sina tentang pendidikan Islam
3. Untuk mengetahui pemikiran dan pandangan Al-Ghazali tentang pendidikan Islam 



BAB II
PEMBAHASAN

1.    Pemikiran dan pandangan Ibnu khaldun tentang pendidikan Islam
A) Tinjauan secara umum
Mengetahui teknik mengajar adalah suatu keharusan yang diterapkan dalam praktik kependidikan, yang mencakup :
·    Mengaitkan antara metoda dengan materi pelajaran.
·    Metoda bukanlah bagian dari ilmu atau materi pelajaran yang telah ditetapkan.
·    Mempelajari kejiwaan anak dan tingkat-tingkat kematangan dan bakat-bakat anak.
Ibnu Khaldun berpendapat bahwa tidak cukup seorang guru hanya membekali anak dengan ilmu pengetahuan saja agar mereka menjadi orang yang berilmu pengetahuan yang menambah kemampuannya dalam belajar. Akan tetapi juga guru wajib memperbaiki metoda dalam penyajian ilmu kepada anak didiknya.
Ibnu Khaldun menetapkan bahwa metoda mengajar, sebaiknya harus diterapkan dalam proses mengajarkan materi ilmu pengetahuan atau mengikutinya (Guidance ancausile), karena dipandang pengajaran tidak akan sempurna kecuali harus dengan metoda itu.
B) Ibnu khaldun tidak menyetujui mengajar dengan cara verbalistis (teks books                       crolen )
Ibnu khaldun menentang metoda verbalisme dalam pengajaran dan menghindari dari hapalan yang tidak memahami sesuatu yang dapat dibuktikan melalui panca indera dan bahan pelajaran yang dihafakan anak. Karena menghapal dengan cara demikian ini akan menghanbat kemampuan memahami, beliau menghimbau agar guru menggunakan metoda lmiah yang modern dalam membahas problema ilmu pengetahuan, dengan pendapatnya beliau : “…dan cara yang paling gampang dalam memahami ilmu adalah kelancaran berbicara dalam diskusi dan pembahasan tentang problema ilmiah, maka ia akan dapat mendekati seluk beluk yang terkandung dalam problema dan dapat memperoleh pengetahuan tentang maksud tujuan yang sebenarnya.

C)  Pandangan Ibnu Khaldun terhadap perkembangan akal pikiran Anak Didik
Beliau menganjurkan agar guru-guru mempelajari sungguh-sungguh perkembangan akal pikiran murid-muridnya, karena anak pada awal hidupnya belum memiliki kematangan pertumbuhan. Kata beliau  : “ Kita telah menyaksikan kebanyakam guru pada masa itu tidak mengetahui metoda pengajaran dan cara penggunaannya, sehingga mereka hadir di depan murid-muridnya dengan mengajarkan permasalahan yang sulit dipahami, dan mereka menyuruh agar memecahkannya (menganalisanya) dan mereka menduga bahwa dengan cara demikian akan memperkembangkan pengajaran dan mengandung kebenaran, padahal kemampuan menerima pengetahuan dikalangan murid mula-mula lemah pemahamannya terhadap keseluruhan ilmu, kecuali dengan jalan mendekati dan memperbaiki dengan menggukan contoh-contoh yang dapat diamati dengan panca indera. Kesiapan dan kematangan murid tersebut berkembang setingkat demi setingkat, bertentangan dengan problema ilmu yang dihadapkan kepadanya. Dan proses pengalihan ilmu untuk mendekati, dengan cara menganalisa problema tersebut, sehingga kemampuan untuk menyiapkan duri mereka ilmu itu benar-benar sempurna, kemudian baru mendapatkan hasilnya.
D)  Metoda mengajar dan gaya yang harus dipelihara oleh guru
a.    Metoda pentahapan dan pengulagan (Tadarruj Wat tik-rari)
b.    Menggunakan sarana tertentu untuk menjabarkan pelajaran
c.    Widya wisata merupakan alat untuk mendapatkan pengalaman yang langsung
d.   Tidak memberikan presentasi yang rumit kepada anak yang baru belajar permulaan
e.    Harus ada keterkaitan dalam disipli ilmu
f.     Tidak mencampur adukkan antara dua ilmu pengetahuan dalam satu waktu
g.    Hendaknya jangan mengajarkan Al-Qu’an kepada anak kecuali setelah sampai pada tungkat kemampuan berfikir tertentu
h.    Menghindari dari mengajarkan ilmu dengan ihktisarnya
i.      Sangsi terhadap murid merupakan salah satu motivasi dorongan semangat belajar (bagi murid yang tiadak disiplin)


E)  Alat yang dipergunakan dalam pendidikan islam
Haru Al-Rasyid berkata (memberi wasiat) kepada Al-Kisai, pendidik putranya Al-Amin  : “Hai Ahmar, sesungguhnya Amirulmukminin telah menyerahkan kepadamu putranya sebagai buah hatinya, maka terimalah dia dengan senang hati dan wajibkan ia mematuhimu, maka berbuatlah untuknya esuai dengan yang telah digariskan oleh Amirul Mukminin yaitu : Bacakanlah kitab suci Al-Qur’an, ajarkanlah ia tentang kisah-kisah, ceritakan kepadanya syair-syair, tajamkanlah pandangannya dan tetepatan berbicara dan permulaan ucapannya, laranglah ia tertawa kecuali pada waktu yang ditentukan, didiklah ia untuk berta’dim (menghormati) tokoh pimpinan dari bani Hasyim ketika mereka bertemu dengannya, dan tinggalkanlah majlis-majlis pemimpin ketika mereka hadir di majlis. Janganlah ia berlatih diri bersamamu sesaat pun kecuali kamu memberikan kesempatan yang berfaedah baginya. Jika hal itu membuatnya bersedih hati maka akan tumpullah jiwanya, dan janganlah memberikan kelonggaran kepadanya sehingga ia merasakan nikmatnya waktu senggang lalu ia terpikat hati kepadanya, dan didiklah ia sedapat mungkin dengan keakraban dan kelemah-lembutan, dan jika ia menolaknya, maka wajilah kamu berlaku keras terhadapnya.”

2. Pemikiran dan pandangan Ibnu Sina tentang pendidikan Islam
A)   Pandangan Ibnu Sina tentang Pendidikan
a. Pendidikan ketrampilan untuk mempersiapkan anak mencari penghidupan.
Ibnu Sina mengintegrasikan antara nilai-nilai identitas dengan pandangan pragmatis, sebagaimana yang ia katakan :” Jika anak telah selesai belajar Al-Qur’an dan menghapal dasar-dasar gramatika, saat itu amatilah apa yang ia inginkan mengenai pekerjaannya, maka arahkanlah ia kejalan itu. Jika ia menginginkan menulis maka hubungkanlah dengan pelajaran bahasa surat menyurat, bercakap-cakap dengan orang lain serta berbincang-bincang dengan mereka dan sebagainya. Kalau problema Matematika, maka caranya harus mengerjakan bersamanya, membimbing dan menuliskannya. Dan jika ingin yang lain maka bawalah ia kesana.”



b.Bahan-bahan kurikulum tingkat awal untuk meningkatkan mutu pendidikan anak
Pendapat Ibnu Sina tentang masalah ini sangat terkenal yaitu : “Sebaiknya diawali dengan mengajarkan Al-Qur’anul Karim tapi dengan cara menghindarkan pengajaran yang bersifat memberatkan jasmani dan akal pikirannya. “
Prinsip-prinsip pendidikan menurut Ibnu Sina
1)   Jangan memulai pengajaran Al-Qur’an kepada anak melainkan setelah anak mencapai tingkat kematangan akal dan jasmaniah yang memungkinkan dapat menerima apa yang diajarkan.
2)   Mengitegrasikan antara pengajaran Al-Qur’an dengan huruf hijaiyah, yang memperkuat pandangan pendidikan modern saat ini yaitu dengan metoda campuran antara metoda analitis dan strukturalis dalam mengajar membaca dan menulis.
3)   Kemudian anak diajuar agama pada waktu tingkat kematangan yang mantap dimana menurut adat kebiasaan hidup keagamaan yang benar terbuka lebar sampai dapat menyerap kedalam jiwanya dan mempengaruhi daya inderawi serta perasaannya.
4)   Ibnu Sina juga memandang penting pelajaran syair sehingga syair itu menjadi sarana pendidikan perasaan. Pelajaran ini dimulai dengan mengajarkan syair-syair yang menceritakan anak glamour, sebab lebih mudah dihapal dan mudah menceritakannya serta bait-baitnya lebih pendek-pendek dan ingatannya lebih gampang diucapkan dan diungkapkan secara blak-blakan. Disamping itu dilihat dari aspek lainnya syair dipandang sebagai kumpulan pantun arab yang berisi tentang kebanggaan dan ungkapan pikiran bangsa arab.
5)   Pengajaran yang diarahkan pada penulisan minat dan bakat pada masing-masing anak didik, sehingga mereka mampu menciptakan klreativitas belajar secara lebih mantap.   
B)  Pendidikan Akhlak
Selanjutnya Ibnu Sina sangat memperhatikan segi akhlak dalam pendidikan, yang menjadi fokus perhatian dari seluruh pemikiran filsafat pendidikan yaitu mendidik anak dengan menumbuhkan kemampuan beragama yang benar. Oleh karena itu pendidikan agama memang meruypakan landasan bagi pencapaian tujusn pendidikan akhlak. Ia menyatakan :” jika anak berada di maktab (kuttab) bergaul dengan sesama anak yang berakhlak terjadi interaksi edukatif, satu sama lain saling meniru dan demikian ia menjadi dasar budinya. Oleh karena itu mereka harus diarahkan kepada pergaulan antar anak yang berakhlak mulia dan beradat kebiasaan yang baik.
Ibnu Sina menjadikan aktivitas berbicara dikalangan anak sebagai suatu metoda yang paling baru untuk mendidik anak mengungkapkan isi hati mereka. Karena ia menganggap bahwa pembicaraan dikalangan anak merupakan persiapan akal anak untuk berpikir dan berdiskusi dan membuka jalan kepada sikap pemahaman yang mendalam.
C)   Syair merupakan salah satu sarana pendidikan akhlak tentang dera dan hukuman
Sesuatu yang menarik perhatian para pembahas tentang sebab-sebab Ibnu Sina menganggap penting syair arab, karena mengandung nilai ahklak dan menjadi salah satu alat pendidikan akhlak. Barang kali rahasianya ialah kembali kepada pribadinya sebagai filosof dan tabib yang berjiwa pendidik atau pendidik yang berjiwa tabib, yang menyebabklan ia menjadi penyair yang mendalami nilaisyair dan pandangannya yang terkenal kayadengan kebijakan yang dapat menjelaskan segala sesuatu.
D)  Pandangannya tentang dera dan hukuman
Ibnu Sina mengatakan : “suatu kewajiban pertama ialah mendidik anak dengan sopan santun, membiasakannya dengan perbuatannya yang terpuji sejak mulai disapih, sebelum kebiasaan jelek mempengaruhinya.”
Jika terpaksa harus mendidik dengan hukuman, sebaiknya diberi peringatan dan ancaman lebih dulu. Jangan menindak anak dengan kekerasan, t5etapi dengan kehalusan hati, lalu diberi motivasi dan persuasi dan kadang-kadang dengan muka masam atau dengan cara agar ia kembali kepada perbuatan baik, atau kadang-kadang dipouji didorong keberaniannya untuk berbuat baik.
Tetapi jika sudah terpaksa memukul, cukuplah pukulan sekali yang menimbulkan rasa sakit, karena pukulan yang banyak membuat anak menjadi terasa ringan, dan memandang suatu hukuman itu remeh. Menghukum dengan pukulan dilakukan setelah memberi peringatan keras (ultimatum) dan menjadikan sebagai alat penolong untuk menimbulkan pengaruh yang positif dalam jiwa anak.
E)  Hubungan antara Akhlak dengan pendiudikan mental dan fisik
Ibnu Sina menghubungkan pendidikan Akhlak dengan kesehatan jasmani dan rohani, serta kewajiban memelihara akhlak sesuai dengan tuntutan pendidikan anak. Tetapi sebaliknya harus dipikirkan bagaimana agar apa yang disukai anak, dan apa yang menjadi hobinya dapat di dekatkan secara dekat kepada mereka sedangkan apa yang ia benci jauhkanlah dri padanya, juga jangan dihadapkan kepada kesulitan melainkan harus diberi kemudahan untuk mengembangkan keahliannya.
Tindakan demikian mengandung dua manfaat yaitu manfaat bagi jiwa dan jasmaninya. Karena keutamaan akhlak dari jiwa anak-anak disebabkan tumbuh dari prilaku baik dalam pergaulannya. Akhlak yang baik tumbuh dari akibat kebaikan pergaulan, sedangkanh akhlak yang buruk juga akibat dari pergaulan yang buruk. Padahal akhlak yang baik mempengaruhi kesehatan mental dan fisik secara keseluruhan.
   
3. Pemikiran dan pandangan Al-Ghazali tentang pendidikan Islam
A. Pandangan Al-Ghazaly tentang pendidikan
a)Tujuan Pendidikan
Al-Ghazzaly mempunyai pandangan berbeda dengan kebanyakan ahli filsafat pendidikan islam mengenai tujuan pendidikan. Beliau menekankan tugas pendidikan adalah mengarah pada realisasi tujuan keagamaan dan akhlak, dimana fadhillah (keutamaan) dan taqarrub kepada Allah merupakan tujuan yang paling penting dalam pendidikan. Dan tujuan pendidikan bagi beliau adalah bersifat keagamaan dan keakhlakan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT danh sekaligus untuk mehndapatkan keridhaan-Nya, karena agama merupakan sistem kehidupan yang menitikberatkan pada pengalaman. Yang dimaksud pengalaman ialah pengalaman terhadap amal akhirat.
b)   Teknik mengajar dan adab sopan santun seorang guru
Al-ghazzaly adalah sangat menyetujui tentang pentingnya aspek keagamaan dalam pendidikan, tapi tidak mengabaikan aspek amaliah meskipun beliau tidak terlalu memusatkan perhatiannya pada aspek ini. Beliau menghendaki agar pendidikan dilandasi dengan agama dan akhlak. Itulah sebabnya beliau memandang bahwa teknik mengajar merupakan pekerjaan yang paling utama yang harus diikuti setiap orang.

 B. Sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang guru
Al-Gazzaly menguraikan sejumlah sifat-sifat guru yang mencerminkan tugas yang harus dilaksanakan oleh mereka yaitu mendidik akal pikiran, jiwa dan rah, yang dijelaskannya sebagai berikut :
a)     Hendaknya guru mencintai muridnya bagaikan anaknya sendiri
b)     Guru jangan menhcari bayaran dari pekerjaan mengajarnya demi mengikuti jejak Rasulullah SAW. Dengan alasan bahwa pekerjaan mengajar itu lebih tinggi harganya dari pada harta benda, cukuplah kiranya guru mendapatkan kebaikan (fadillah) dan pengakuan tentang kemampuannya menunjukkan orang kepada jalan kebenaran dan hak, kebaikan dan ilmu pengetahuan, dan yang lebih utama lagi ialah guru dengan menunjukkan jalan yang hak kepada orang lain.
c)     Guru hendaknya menasihati muridnya agar jangan mencari ilmu untuk kemegahan atau mencari penghidupan,akan tetapi menuntut ilmu demi untuk ilmu dan hal ini merupakan dorongan ideal yang perlu diikuti.
d)    Guru waji memberi nasiha murid-muidnya agar menuntut ilmu yang bermanfaat tersebut (menurut beliau) ialah ilmu yang dapat membawa kebahagiaan hidup akhirat, yaitu ilmu agama.
e)     Seorang guru idola (teladan) yang baik dan contoh yang utama harus ditiru oleh anak-anak (mereka menyerap kebiasaan yang baik yang dikembangkan oleh seorang guru idola). Mereka senang mencontoh sifat-sifat dan meniru segala tindak-tanduk guru yang diidolakan. Oleh karena itu seorang guru wajib berjiwa lembut yang penuh dengan tasamuh (lapang dada) penuh keutamaan, dan terpuji.
f)      Memperhatikan bakat kemampuan murid tingkat perkembangan akal dan pertumbuhan jasmaniyahnya.
g)     Harus memperhatikan perbedaan-perbedaan individual anak (murid)
h)     Guru hendaknya mampu mengamalkan ilmunya, agar ucapanny tidak mendustai perbuatannya.
i)       Mempelajari hidup psikologis muerid-muridnya.

C. Pandangan tentang ganjaran dan siksaan / hukuman
Untuk membuat anak jera hendaknya para pendidik menggunakan cara-cara yang dapat menjauhkan anak melakukan perbuatan tidak baik yang dilakukan dalam bentuk persuasif dan kekeluargaan. Bila guru ingin mencegah anak berbuat buruk lebih baik menggunakan cara-cara yang membiarkan mereka seolah-olah tidak diperhatiakn (Metoda ta’rudh), bukan cara langsung menegurnya dengan keras atau kasar (metoda tasrich). Bahkan mereka diperlakukan dengan kasih sayang karena demikian anak tidak akan selalu berperilaku buruk. Menurut Al-Gazaly :” karena dengan menegur secara kasar/keras akanmenyingkapkan rasa takut dan menimbulkan keberanian menyarang orang lain, dan mendorong timbulnya keinginan untuk tetap melakukan pelanggarn. Sedang cara yang mendorong kearah pengertian (metoda ta’ridh) atau cara persuasif membuat anak cenderung ke arah mencintai kebaikan, dan berpikir kretif dalam memahami suatu kejadian.     
D. Pendapat Al-Gazzaly tentang mendidik anak
Al-Gazzaly berpendapat bahwa anak dilahirkan tanpa dipengaruhi sifat-sifat heriditer kecuali hanya sedikit sekali, karena faktor pendidikan, lingkungan dan masyarakat merupakan faktor yang paling kuat mempengaruhi sifat-sifat anak. Pendapat beliau ini sejalan dengan pendapat para ahli psikologi (behavorisme) yang mengingkari adanya pengaruh faktor keturunan ini secara mutlak.
E. Kurikulum pendidikan anak
a)     Pendidikan anak dimulai sejak lahir
b)     Disiplin pribadi merupaka azas dari pendidikan akhlak
Hendaknya para pendidik mengikuti sistem pendidikan berdasarkan atas kaidah membiasakan anak dengan disiplin pada waktu makan, berpakaian dan tidurnya. Tujuannya ialah untuk menunbuhkan jasmaniah anak agar kuat dan mampu menaggung kesulitan hidupnya.

4.    Analisis tentang pendidikan yang diterakan 3 tokoh diatas
Seorang guru itu bertugas bukan hanya mentranfer ilmunya saja akan tetapi juga harus bisa menjadikan anak itu lebih mengetahui sesuatu ilmu yang lebih luas serta penerapanya untuk dijadikan bekal hidupnya nanti.
Dalam pandangan 3 tokoh ulama’ yang terkenal tentang pendidikan adalah bahwa seorang guru itu menerapkan ilmunya bukan hanya memberikan ilmunya saja, akan tetapi ada tahapan serta teori yang mana harus tertanamkan pada diri seorang guru, pada saat guru mengajarkan ilmunya dengan cara bertahap (mengetahui seberapa tingkat prmikiranya), ketika seorang guru memberikan ilmu kepada muridnya bukan hannya dengan teori atau hafalan saja akan tetapi harus dibarengi dengan praktek atau bisa dikatakan hafalan tanpa pemahaman itu sama saja dengan bohong, dan didalamnya terdapat materi agama untuk mengimbangi pelajaran umum.
Pendidikan yang ada di negara kita jika diterapkan sistem seperti diatas (yang dipakai para ulama’ terkenal) akan lebih sempurna, karena jika metode 3 tokoh tersebut diatas digabungkan lalu diterapkan di negara kita maka anak itu bukan hanya tahu akan tetapi mengerti dan faham sehingga terwujudlah ilmu yang bermanfaat serta lebih melengket pada fikiran anak, dan setelah kita mengamati pendidikan yang berada di sekitar kita masih menggunakan yang penting murid itu tahu, tanpa mengetahui bagimana cara penerapanya dari materi yang diberikan (hanya sebagian saja yang menerapkan sistem diatas). 


BAB III
PENUTUP
 A.Kesimpulan

            Ibnu Khaldun berpendapat bahwa tidak cukup seorang guru hanya membekali anak dengan ilmu pengetahuan saja agar mereka menjadi orang yang berilmu pengetahuan yang menambah kemampuannya dalam belajar. Akan tetapi juga guru wajib memperbaiki metoda dalam penyajian ilmu kepada anak didiknya.
            Ibnu Sina menjadikan aktivitas berbicara dikalangan anak sebagai suatu metoda yang paling baru untuk mendidik anak mengungkapkan isi hati mereka. Karena ia menganggap bahwa pembicaraan dikalangan anak merupakan persiapan akal anak untuk berpikir dan berdiskusi dan membuka jalan kepada sikap pemahaman yang mendalam.
            Al-Ghazzaly mempunyai pandangan berbeda dengan kebanyakan ahli filsafat pendidikan islam mengenai tujuan pendidikan. Beliau menekankan tugas pendidikan adalah mengarah pada realisasi tujuan keagamaan dan akhlak, dimana fadhillah (keutamaan) dan taqarrub kepada Allah merupakan tujuan yang paling penting dalam pendidikan.

B. Saran
Kami menyadari bahwa makalah yang kami buat masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu kritik dan saran dari pembaca yang membangun sangat kami harapkan dan semoga terselesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Amin …

DAFTAR PUSTAKA

·      Arifin, Perbandingan Pendidikan Islam, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002.
·      Jawwad Riidla, Muhammad, Tiga Aliran Utama Teori Pendidikan Islam, Yokyakarta:Tiara Wacana Yogya, 2002.
·      Nata, Abudin, Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru-Murid, Jakarta: PT raja Grafindo Persada, 2001.
·      Susanto, A, Pemikiran Pendidikan Islam, Jakarta: Amzah, 2009.





















DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL .....................................................................................................     i
KATA PENGANTAR...................................................................................................    ii
DAFTAR ISI ..................................................................................................................   iii

BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang................................................................................................    1
B.     Rumusan Masalah ..........................................................................................    1
C.    Tujuan Pembahasan Masalah .......................................................................    1

BAB II PEMBAHASAN
A. Pemikiran dan pandangan Ibnu khaldun tentang pendidikan Islam..........   2
B. Pemikiran dan pandangan Ibnu Sina tentang pendidikan Islam................. 4
C. Pemikiran dan pandangan Al-Ghazali tentang pendidikan Islam  .............  7
D. Analisa       ....................................................................................................... 10
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan .......................................................................................................  11  
B. Saran.................................................................................................................. 11 
DAFTAR PUSTAKA


iii
 
 







PEMIKIRAN DAN PANDANGAN IBNU KALDUN, IBNU SINA DAN AL-GHAZZALY


MAKALAH

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
 “ Perbandingan Pendidikan Islam’’


Dosen Pembimbing

Zaini Pasya, S.Ag. M. PdI





 














Disusun Oleh:

1.     Noer Endah Astuti   (3211093108)
2.     Nur Afridah R                   (3211093110)
3.     Pendik Hanafi                   (3211093111)
4.      Qori Nur Ashanti     (3211093112)


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN TULUNGAGUNG)
MEI 2010

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat taufik serta hidayah-Nya kepada kita sehingga dapat menyelesaikan tugas Makalah “ Pemikiran dan Pandangan Ibnu Khaldun, Ibnu Sina dan Al-ghozali tentang pendidikan Islam” tanpa halangan suatu apapun.
Tak lupa kami ucapkan terimakasih kepada :
1.   Prof. Dr. Maftukhin, M. Ag selaku ketua STAIN Tulungagung
2.   Bapak Zaini Pasya, S.Ag. M.PdI selaku dosen pembimbing mata kuliah Perbandingan Pendidikan Islam STAIN Tulungagung
3.   Teman-teman mahasiswa yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun, dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin …
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.



                                                                                                   Tulungagung,  19 Mei 2010
 
                                                                                                                Penyusun

0 komentar:

Poskan Komentar