Pages

Sabtu, 14 Juli 2012

NILAI - NILAI INSTRUMENTAL EKONOMI ISLAM


MAKALAH
NILAI-NILAI INSTRUMENTAL
EKONOMI ISLAM
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah ‘Dasar-dasar ekonomi islam
Dosen Pembimbing :
Mohammad Aswad M.Pd,i


    
  
Disusun oleh :
1. M zetna fahmi                (3211093086)
2. Masrokah                       (32110930    )
3. M Gozi                           (32110930   )
JURUSAN                  : TARBIYAH
PRODI                                    :PAI-C
SEMESTER                : IV
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) TULUNGAGUNG
2010
KATA PENGANTAR
Teriring do’a sebagai seorang hamba, segenap ikhtiar sebagai seorang khalifah, dan segala puji syukur milik Allah SWT, Pencipta semesta alam, yang menaburkan kehidupan dengan penuh hikmah. Dengan limpahan rahmat, taufik serta inayah-Nya, penulis diberikan kekuantan untuk menyeleseikan makalah yang berjudul” Nilai-nilai instrumental dalam ekonomi islam”.
            Sholawat serta salam senantiasa kita sanjungkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW, sang penerang umat, juga kepada keluarga yang mulia,sahabatnya yang tercinta dan umatnya yang setia  akhir zaman semoga kita mendapat syafaat-Nya, Amien….
            Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini tidak terlepas dari bantuan dan partisipasi dari berbagai pihak, pada kesempatan ini  penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1.             Dr. Maftukhin, M. Ag, selaku ketua STAIN Tulungagung
2.             Muhammad Aswad ,M.Pd.i. selaku dosen pembimbing
3.             Seluruh  pihak yang ikut berpartisipasi dalam penyelesaian makalah ini.

Sebagaimana pepatah mengatakan  Tiada gading yang tak retak, maka penulisan makalah inipun tentunya dijumpai banyak kekurangan dan kelemahan. Untuk itu kami mohon maaf yang sebesar-besarnya dan mengharap tegur serta saran-saran penyempurnaan, agar kekurangan dan kelemahan yang ada tidak sampai mengurangi nilai dan manfaat bagi pendidikan studi Islam pada umumnya.
                                                                                                  Tulungagung, 29 April 2011


Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ............................................................................................  1
KATA PENGANTAR .........................................................................................  2
DAFTAR ISI ........................................................................................................  3
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar belakang masalah .......................................................................  4
B.     Rumusan masalah ...............................................................................   4
C.     Tujuan pembahasan.............................................................................. 4

BAB II PEMBAHASAN                 
A.    Nilai-nila instrumental…………………………………………..
a)    Zakat…………………………………………………………….
b) Sedekhah……………………………………………………….
c) Jaminan social…………………………………………………
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan…………………………………………………..
B.     Kritik dan saran………………………………………………

DAFTAR PUSTAKA




BAB 1
PENDAHULUAN
A.Latar belakang.
Krisis moneter melanda di mana-mana, tak terkecuali di negeri kita tercinta ini. Para ekonom dunia sibuk mencari sebab-sebabnya dan berusaha sekuat tenaga untuk memulihkan perekonomian di negaranya masing-masing. Krisis ekonomi telah menimbulkan banyak kerugian, meningkatnya pengangguran, meningkatnya tindak kejahatan dan sebagainya
.Sistem ekonomi kapitalis dengan sistem bunganya diduga sebagai penyebab terjadinya krisis. Sistem ekonomi Islam mulai dilirik sebagai suatu pilihan alternatif, dan diharapkan mampu menjawab tantangan dunia di masa yang akan dating.
.
B. Rumusan masalah.
Apayang dimaksud dengan Zakat,shadaqah dan jaminan sosialdalam ekonomi islam?
C. Tujuan masalah.
Untuk mengetahui dimaksud dengan Zakat,shadaqah dan jaminan sosialdalam ekonomi islam?
D.  Batasan masalah.
Makalah ini hanya membahas tentang nilai-nilai instrumental dalam perekonomian islam yang mencangkup zakat, sedekhah dan jaminan social.


BAB II
PEMBAHASAN
1.    Nilai instrumental.
Implementasi koncep ekonomi bergantung pada kerangka kerja yang diturunkan dari  perangkat nilai instrumental yang menjamin sosialisasi system. Tiap system ekonomi menurut aliran pemikiran dan agama tertentu mempunyai perangkat instrumental yang berlainan. Dalam sisitem kapitalis menilai instrumental terletak pada nilai persaingan sempurna dan kebebasan masuk keluar pasar dan tanpa hambatan., informasi dan bentuk pasar atomistic dari tiap unit okonomi, pasar yang monopolistic untuk mencegah perang harga dan pada waktu yang sama menjamin produsen dengan menetapkan harga-harga lebih tinggi dari pada harga marjinal (marjinal cost). Sedangkan dalam marxisme, Semua perencanaan ekonomi dilaksanakan secara sentral melalui proses berulang- ulang (iterasi) yang mekanistik, pemilikan kaum ploletar terhadap factor factor produksi diatur secara kolektif.
Kemudian bagaimanakah fungsionalisasi nilai instrumental ekonomi islam? Dalam ekonomi islam, nilai instrumental yang strategis dan sangat berpengaruh pada tingkah laku ekonomi manusia dan masyarakat serta pembangunan ekonomi umum nya, Adalah meliputi: perintah Zakat, shodakoh dan jaminan social.[1]
A.    Zakat.
Zakat menurut bahasa artinya adalah “berkembang” (an namaa`) atau “pensucian” (at tath-hiir). Adapun menurut syara’, zakat adalah hak yang telah ditentukan besarnya yang wajib dikeluarkan pada harta-harta tertentu. (haqqun muqaddarun yajibu fi amwalin mu’ayyanah) (Zallum, 1983 : 147).
Selanjutnya kalau dikaitkan dengan ekonomi islam zakat adalah Sumber utama pendapatan dalam pemerintahan Islam, yang notabone merupakan salah satu dari rukun Islam dan juga menjadi sebuah kewajiban. Namun  zakat bukanlah pajak untuk menjamin penerimaan Negara. sebab, distribusi pengumpulan zakat harta ditunjukkan kepada delapan kelompok sasaran (Asnaf) sebagaimana firman Allloh SWT.
“hanya zakat itu untuk orang orang fakir,orang miskin,pengurus zakat, orang muallaf hatinya, untuk memerdekakan budak, orang yang berutang, orang yang brjuang dijalan Alloh dan untuk orang musyafir sebagai suatu keperluan dari pada Alloh ,Alloh maha mengetahui dan maha bijaksana.”[2]

   Inilah dasar yang tegas dari kewajiban Negara didalam islam, untuk mencampuri urusan pembagian harta diantara manusia. Negara dapat mempergunakan kekuasaan nya untuk memaksakan golongan yang mampu, supaya membayar zakat, untuk meringankan golongan hidup yang tidak mampu, atau untuk menyokong kepentingan masyarakat dan Negara. Disamping kewajiban tiap-tiap tahun ini, Islam menyediakan lagi Iuran kemanusiaan, yang harus ditunaikan pada hari raya lebaran (idul fitri). Yang dinamakan zakat fitroh.
   Pemerintah dapat menggunakan alat kekuasaan nya sehingga seluruh rakyat nya patuh. Disamping zakat-zakat yang wajib ini, islam memberikan kekuasaan pulakepada Negara supaya meletakkan kewajiban keuangan lain nya atas nama Negara terhadap golongan orang-orang yang mampu. Pedoman yang harus dipegangoleh Negara adalah kemakmuran seluruh rakyat sehingga hilanglah batas-batas antara miskin dan sikaya, ploletar dan borjuis, buruh dan majikan.

   Selanjut nya,Menurut Qardhawi, zakat merupakan sumber dana jaminan sosial. Zakat memainkan peranan penting dan signifikan dalam distribusi pendapatan dan kekayaan, dan berpengaruh nyata pada tingkah laku konsumsi umat.[3] Oleh karena itu, Qardhawi lebih tegas menyatakan bahwa zakat tersebut-dalam konteks umat- menjadi sumber dana yang sangat penting. Zakat berpengaruh pula terhadap pilihan konsumen dalam mengalokasikan pendapatannya untuk tabungan atau konsumsi atau investasi. Pengaruh zakat pada aspek sosio-ekonomi yaitu memberikan dampak terciptanya keamanan masyarakat dan menghilangkan pertentangan kelas yang diakibatkan oleh perbedaan pendapatan. Pelaksanaan zakat oleh negara menunjang terbentuknya keadaan ekonomi, yakni peningkatan produktivitas yang disertai dengan pemerataan pendapatan serta peningkatan lapangan kerja bagi masyarakat.

B. Shadaqah.
Shadaqah atau sedekhah adalah pemberian sukarela yang dilakuakan oleh seseorang kepada orang lain, terutama kepada oran miskin, setiap kesempatan terbuka yang tidak ditentukan baik jenis, jumplah maupun waktu nya.[4] Lembaga sedekhah sangat digelakan oleh ajaran islamuntuk menawarkan jiwa social dan mengurangi penderitaan orang lain. Sedekah tidak terbatas pada pemberian yang bersifat material saja, tetapi dapat brupa jasa yang bermanfaat bagi orang lain. Bahkan senyum yang dilakukan dengan iklas untuk menyenangkan orang lain termasuk dalam katagori sedekhah. Tentang sedekhah disebutkan dalam Al-Quran: Al-Baqhorah 195.

 (#qà)ÏÿRr&ur Îû È@Î6y «!$# Ÿwur (#qà)ù=è? ö/ä3ƒÏ÷ƒr'Î/ n<Î) Ïps3è=ök­J9$# ¡ (#þqãZÅ¡ômr&ur ¡ ¨bÎ) ©!$# =Ïtä tûüÏZÅ¡ósßJø9$# ÇÊÒÎÈ  
Artinya:’ dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

4) Jaminan Sosial                                                                                                                             
Tujuan dari jaminan sosial adalah untuk menjamin tingkat dan kualitas hidup yang minimum bagi seluruh lapisan masyarakat. Jaminan sosial secara tradisional berkonotasi dengan pengeluaran sosial baik untuk kepentingan Negara ataupun untuk kebajikan humanis dan tujuan bermanfaat lainnya menurut syariat Islam. Nilai jaminan sosial akan mendekatkan manusia kepada Allah dan karunia-Nya, membuat manusia bersih dan berkembang, menghilangkan sifat tamak, sifat mementingkan diri sendiri, dan hambatan-hambatan terhadap stabilitas dan pertumbuhan sosio-ekonomi. Jaminan sosial akan membuat manusia lebih siap memasuki hari perhitungan karena telah mnejual dirinya untuk mencari kenikmatan Illahi. Pengeluaran sosial manusia dalam Islam akan memperoleh imbalan nyata dalam kehidupan didunia dan akhirat.
Harry Calvert mendevinisikan rumusan jaminan social dengan pernyataan ,” mekanisme utama yang sah berkaitan pemberian jamianan untuk mencukupi penghasilan individu jika pelaksanaan nya dilakuakn dengan memanfaatkan pelayanan social lain, untuk menjamin seseorang untuk memenuhi standar hidup minimal secara kulturan yang layak jika sarana yang biasa dilaksanakan mengalami kegagalan”.
Ajaran islam tidak terbatas oleh waktu maupun tempat islam memberikan ajaran kehidupan kepada kita yang tidak ada batas akhir nya yang akan melewati batas waktu dan ruang dan dapat diterapkan kepada seluruh manusia dengan segala persoalan nya hingga waktu yang akan datang. Sistem jaminan social islam berdasarkan pada prinsi-prinsip. Pertama bahwa kesejahteraan dan harta itu adalah milik Alloh dan Negara wakil Alloh, menjalankan semua itu atas keimanan kepada Alloh dan kedua Negara memberikan jaminan social kepada seluruh warga nya dalam kondisi bahwa masyarakat mematuhi peraturan Negara.
( Nèdqè?#uäur `ÏiB ÉA$¨B «!$# üÏ%©!$# öNä38s?#uä 4 (33)
Artinya: dan berikan lah kepada mereka sebagian harta dari harta Alloh yang                                                             dikaruniakan ny kepadamu. (An Nuur:33)



BAB III
PENUTUB
A.    Kesimpulan.
Perekonomian sebagai salah satu sendi kehidupan yang penting bagi manusia, Kemudian bagaimanakah fungsionalisasi nilai instrumental ekonomi islam? Dalam ekonomi islam, nilai instrumental yang strategis dan sangat berpengaruh pada tingkah laku ekonomi manusia dan masyarakat serta pembangunan ekonomi umum nya, Adalah meliputi: perintah Zakat, shodakoh dan jaminan social. Hal tersebut sangatlah berpengaruh dalam kelangsungan kesempurnaan dalam suatu perekonomian masyarakat itu sendiri.

B.     Kritik dan Saran.
Dalam pembuatan makalah kami ini tidak menutup kemungkinan masih adanya banyak kekurangan. Karena kami sadar bahwa makalah kami ini jauh dari kata – kata sempurna. oleh karena itu kritik dan saran sangat kami harapkan guna memperbaiki makalah ini.














DAFTAR PUSTAKA

Ø  Ali, muhammad, Daud. 1988. Sistem ekonomi islam zakat dan waqaf. Jakarta: Unifersitas Indonesia (UI-Press).
Ø  Afzalur, Rahman.2003, Doktrin ekonomi islam jilid IV. YogJakarta:  PT DANA BAKTI WAKAF.
Ø  Muhammad.2005.pengantar akutansi syari’ah.Jakarta: Salemba emban patria.


[1] A.M.Saefuddin dalam sasono,loc,cit,. 1988.hal 46.
[2] QS.At-Taubah (9).60.
[3] Yusuf Qardhawi, loc, cit 1997, hal 416.
[4] Ali Muhammad daud.loc .cit.1988. hal23.

0 komentar:

Poskan Komentar