Pages

Kamis, 12 Juli 2012

MANAJEMEN MADRASAH


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Perbincangan tentang madrasah sesungguhnya sudah banyak sekali dilakukan di berbagai tempat dan kesempatan berbeda-beda, tidak terkecuali menyangkut aspek manajemennya. Pengamatan serta analisis tajam telah banyak dihasilkan. Begitu pula pikiran-pikiran cerdas untuk membangun konsep dan rancangan pengembangan madrasah sudah banyak dipublikasikan. Kendatipun secara umum nasib madrasah memprihatinkan; namun, tidak semua madrasah kondisi dan prestasinya kurang baik. Ada madrasah yang performa dan prestasinya jauh lebih unggul di banding sekolah umum pada umumnya. Hanya saja, jumlah madrasah yang tergolong maju seperti itu masih sangat sedikit, sehingga menimbulkan kesan stigmatik, jika menyebut madrasah, maka yang tergambar adalah sekolah yang kurang maju.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa Pengertian dari manajemen?
2.      Apa pengertian dari madrasah?
3.      Bagaimana manajemen madrasah itu?
4.      Apa kelemahan dari madrasah?
5.      Strategi apa yang dilakukan untuk mengatasi kelemahan madrasah?
6.      Bagaimanakah bidang pendidik dan tenaga kependidikan di madrasah?
7.      Bagaimana sarana dan prasarana di madasah?
8.      Bagaimanakah bidang keuangan dan pembiayaan di madrasah?

C.    Tujuan Pembahasan Masalah
1.      Agar memahami pengertian dari manajemen
2.       Agar memahami pengertian dari madrasah
3.       Agar memahami Bagaimana manajemen madrasah
4.       Agar memahami kelemahan dari madrasah
5.       Agar memahami Strategi yang dilakukan untuk mengatasi kelemahan madrasah
6.       Agar memahami bidang pendidik dan tenaga kependidikan di madrasah
7.       Agar memahami sarana dan prasarana di madasah
8.      Agar memahami bidang keuangan dan pembiayaan di madrasah

D.    Pembatasan Masalah
Makalah ini hanya membahas tentang Manajemen Madrasah.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Manajemen
Manajemen berasal dari kata "to manage" yang berarti mengatur, mengurus atau mengelola. Banyak definisi yang telah diberikan oleh para ahli terhadap istilah manajemen ini. Namun dari sekian banyak definisi tersebut ada satu yang kiranya dapat dijadikan pegangan dalam memahami manajemen tersebut, yaitu : Manajemen adalah suatu proses yang terdiri dari rangkaian kegiatan, seperti perencanaan, pengorganisasian, penggerakandan pengendalian/pengawasan, yang dilakukan untuk menetukan dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumberdaya manusia dan sumberdaya lainnya.
B.     Pengertian Madrasah
Kata "madrasah" dalam bahasa Arab adalah bentuk kata "keterangan tempat" (zharaf makan) dari akar kata "darasa". Secara harfiah "madrasah" diartikan sebagai "tempat belajar para pelajar", atau "tempat untuk memberikan pelajaran". Dari akar kata "darasa" juga bisa diturunkan kata "midras" yang mempunyai arti "buku yang dipelajari" atau "tempat belajar"; kata "al-midras" juga diartikan sebagai "rumah untuk mempelajari kitabTaurat’.
Kata "madrasah" juga ditemukan dalam bahasa Hebrew atau Aramy, dari akar kata yang sama yaitu "darasa", yang berarti "membaca dan belajar" atau "tempat duduk untuk belajar". Dari kedua bahasa tersebut, kata "madrasah" mempunyai arti yang sama: "tempat belajar". Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kata "madrasah" memiliki arti "sekolah" kendati pada mulanya kata "sekolah" itu sendiri bukan berasal dari bahasa Indonesia, melainkan dari bahasa asing, yaitu school atau scola.
Sungguhpun secara teknis, yakni dalam proses belajar-mengajarnya secara formal, madrasah tidak berbeda dengan sekolah, namun di Indonesia madrasah tidak lantas dipahami sebagai sekolah, melainkan diberi konotasi yang lebih spesifik lagi, yakni "sekolah agama", tempat di mana anak-anak didik memperoleh pembelajaran hal-ihwal atau seluk-beluk agama dan keagamaan (dalam hal ini agama Islam).
Dalam prakteknya memang ada madrasah yang di samping mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan (al-'ulum al-diniyyah), juga mengajarkan ilmu-ilmu yang diajarkan di sekolah-sekolah umum. Selain itu ada madrasah yang hanya mengkhususkan diri pada pelajaran ilmu-ilmu agama, yang biasa disebut madrasah diniyyah. Kenyataan bahwa kata "madrasah" berasal dari bahasa Arab, dan tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, menyebabkan masyarakat lebih memahami "madrasah" sebagai lembaga pendidikan Islam, yakni "tempat untuk belajar agama" atau "tempat untuk memberikan pelajaran agama dan keagamaan".
C.    Manajemen Madrasah
Selama ini madrasah dianggap sebagai lembaga pendidikan Islam yang mutunya lebih rendah daripada mutu lembaga pendidikan lainnya, terutama sekolah umum, walaupun beberapa madrasah justru lebih maju daripada sekolah umum. Namun, keberhasilan beberapa madrasah dalam jumlah yang terbatas itu belum mampu menghapus kesan negatif yang sudah terlanjur melekat.
Ditinjau dari segi penguasaan agama, mutu siswa madrasah lebih rendah daripada mutu santri pesantren. Sementara itu, ditinjau dari penguasaan materi umum, mutu siswa madrasah lebih rendah daripada sekolah umum. Jadi, penguasaan baik pelajaran agama maupun materi umum serba mentah (tidak matang)
Dari segi manajemen, madrasah lebih teratur daripada pesantren tradisional, tetapi dari segi penguasaan pengetahuan agama, santri lebih mumpuni. Keadaan ini wajar terjadi karena santri tersebut hanya mempelajari pengetahuan agama, sementara beban siswa madrasah berganda. Demikian juga, menjadi wajar ketika dalam hal penguasaan pengetahuan umum, siswa sekolah umum lebih unggul menguasai daripada siswa madrasah karena beban siswa sekolah umum tidak sebanyak siswa madrasah.

D.    Kelemahan Madrsah
Pengelola atau pimpinan lembaga pendidikan memang memiliki posisi dan fungsi setrategis selaku pengendali lembaga tersebut. Mereka memiliki kekuasaan politis, suatu kekuasaan yang tidak dimiliki oleh para guru. Melalui kekuasaan itu mereka memiliki kewenangan untuk mengadakan pembaharuan. Oleh karena itu, wajar sekali terjadi ketika suatu madrasah mengalami kemunduran maka kepala madrasah yang banyak mendapatkan kritikan.
Perilaku pimpinan atau pengelola memilikinpengaruh yang signifikan terhadap maju-mundurnya sebuah madrasah. Perilaku positif dan proaktif dapat mendukung kemajuan madrasah. Sebaliknya, perilaku negatif dan kontraproduktif justru menghambat kemajuan. Perilaku negatif ini terkait dengan tradisi kurang baik. Yang berlangsung dan berkembang di suatu madrasah.
Praktik manajemen di madrasah sering menggunakan model manajemen tradisional. Dominasi senioritas jelas mengganggu perkembangan dan peningkatan kualitas pendidikan. Munculnya kreatifitas dan inovasi dari kalangan muda terkadang dipahami sebagai sikap yang tidak menghargai senior. Kondisi ini mengarah pada penilaian negatif, sehingga muncul kesan bahwa meluruskan atau mengoreksi kekeliruan langkah senior dianggap sebagai sikap su’al-adab.
Anggapan demikian, sebenarnya, merupakan pengaruh budaya lokal, bukan pengaruh ajaran agama. Islam memang mengajarkan kode etik dalam pergaulan antara orang tua dan muda. Kalangan muda menghormati yang tua sedangkan yang tua mengasihi yang muda. Penghormatan yang berlebihan pada senior justru menimbulkan dua macam kelemahan: pertama, kalangan senior tidak merasa tertantang sehingga kreativitasnya tidak terbangkitkan sama sekali, dan kedua, kalangan junior merasa ide, kreativitas, gagasan, insiatifnya terbelenggu, sehingga merasa pesimis dalam menghadapi tantangan-tantangan lembaga pendidikan di masa depan yang semakin kompleks.
Selanjtnya, kondisi kultur di luar madrasah juga mempengaruhi kualitas madrasah. Kondisi ini bias berupa pandangan atau penilaian masyarakat terhadap madrasah. Selama ini madrasah dipersepsikan sebagai lembaga pendidikan kelas ekonomi, tidak bermutu, hanya mengajarkan agama semata, jurusan akhirat, tempat penampungan anak-anak orang miskin dan tidak bisa melanjutkan ke sekolah umum atau perguruan tinggi umum negeri.
Semua anggapan tersebut merupakan hal yang salah kaprah karena tidak berdasar. Meskipun demikian, anggapan itu tetap bertahan mempengaruhi masyarakat umum, yang selama ini memang jauh dari kehidupan madrasah. Mereka terpengaruh lantaran tidak mengetahui realitas yang sebenarnya. Tentu saja, kondisi eksternal madrasah yang demikian kurang menguntungkan bagi peningkatan mutu pendidikan madrasah.
Ada banyak faktor lain yang juga menyebabkan mutu madrasah lemah, termasuk masalah yang berhubungan dengan beban yang harus dijalani siswa. Beban yang diwajibkan pada siswa madrasah jauh lebih berat daripada beban siswa sekolah umum, plus pelajaran rumpun agama yang meliputi bahasa Arab, al-qur’an-hadits, akidah-akhlaq, fikih-ushul al-fiqih, dan sejarah kebudayaan Islam. Apalagi madrasah yang berada dalam pesantren, beban siswa lebih berat lagi. Karena, di samping siswa mengikuti pelajaran di madrasah juga mengikuti pelajaran pesantren.
Pada bagian lain, kita harus menyadari bahwa potensi siswa madrasah rata-rata merupakan kelas menengah ke bawah. Secara intelektual kemampuan mereka lemah, sebab biasanya siswa yang memiliki prestasi baik cenderung melanjutkan ke sekolah umum. Secara ekonomi, posisi mereka juga berada pada kelas menengah kebawah. Demikian juga secara sosial, mereka berasal dari kalangan masyarakat biasa. Intinya, potensi siswa madrasah rata-rata merupakan akumulasi kelas menengah ke bawah baik secara intelektual, ekonomi maupun sosial. Keadaan ini menunjukkan bahwa kehadiran mereka di madrasah telah membawa sejumlah problem yang harus diselesaikan karena ini juga berpengaruh pada kelangsungan pembelajaran.
Selanjutnya, dibandingkan sekolah umum, guru, sarana dan prasarana, serta peralatan pembelajaran di madrasah juga masih tertinggal. Guru-guru di madrasah masih banyak yang kurang profesional, baik dalam tingkat pendidikan maupun keahliannya. Masih banyak guru madrasah yang mengampu mata pelajaran yang bukan keahliannya. Demikian juga dengan sarana dan prasarana, perpustakaan, serta laboratorium yang mestinya menjadi jantung madrasah ternyata tidak memadai.

E.     Strategi Mengatasi Kelemahan Madrasah
Dalam kasus madrasah, berdasarkan identifikasi penyebab kelemahan mutu madrasah yang meliputi pihak pengelola, kondisi kultural masyarakat, kebijakan politik Negara terutama yang menyangkut pendanaan, beban pelajaran yang harus dijalani siswa, keadaan sarana-prasarana, alat-alat pembelajaran, maupun kondisi guru yang kurang professional, maka banyak hal yang turut bertanggung jawab terhadap rendahnya kualitas madrasah.
Akan tetapi, semua faktor itu merupakan akibat semata, sementara itu yang menjadi faktor penyebab justru para pengelola madrasah. Jika mereka memiliki kemampuan dan keahlian dalam mengelola, maka persoalan-persoalan lain seharusnya dapat diatasi dengan baik. Karena para pengelola sebagai pihak yang memegang kendali, memiliki kekuatan eksekutif atau politik yang dapat dijadikan sarana atau media dalam mengkondisikan komponen-komponen lainnya.
Kebijakan mengembangkan madrasah perlu mengakomodasi tiga kepentingan berikut ini.
a.       Bagaimana kebijakan itu pada dasarnya harus memberi ruang tumbuh yang wajar bagi aspirasi utama umat Islam.
b.      Bagaimana kebijakan itu memperjelas dan memperkokoh keberadaan madrasah sederajat dengan sistem sekolah, sebagai ajang membina warga Negara yang cerdas, berpengetahuan, berkepribadian, serta produktif.
c.       Bagaimana kebijakan itu bisa menjadikan madrasah mampu merespons tuntutan-tuntutan masa depan.
Berdasarkan tiga macam kepentingan itu, dapat dilakukan pemetaan sebagai berikut, kepentingan pertama mengemban misi dakwah, kepentingan kedua mengemban misi pendidikan, sedangkan kepentingan ketiga mengemban misi pembaharuan. Misi ketiga inilah yang membingkai setiap upaya untuk melakukan pembaruan, peningkatan, maupun pengembangan manajemen madrasah yang mengarah pada pencapaian kemajuan. Tanpa misi ketiga itu tidak  bisa dibedakan antara satu madrasah dengan madrasah lainnya. Karena, semua madrasah memiliki misi dakwah dan misi pendidikan.
Pimpinan madrasah dituntut untuk melakukan langkah-langkah kearah perwujudan visi madrasah: agamis, berkualitas, dan beragam. Langkah-langkah tersebut diantaranya dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.       Membangun kepemimpinan madrasah yang kuat dengan meningkatkan koordinasi, menggerakkan semua komponen madrasah, menyinergikan semua potensi, merangsang perumusan tahapan-tahapan perwujudan visi dan misi madrasah.
b.      Menjalankan manajemen madrasah yang terbuka dalam pengambilan keputusan dan penggunaaan keuangan madrasah.
c.       Mengembangkan tim kerja yang solid, cerdas dan dinamis.
d.      Mengupayakan kemandirian madrasah untuk melakukan langkah terbaik bagi madrasah.
e.       Menciptakan proses pembelajaran yang efektif.

F.     Bidang Pendidik dan Tenaga Kependidikan
a.       Madrasah menyusun progam pendayagunaan pendidikan dan tenaga pendidikan.
b.      Progam pendaygunaan pendidik dan tenaga kependidikan :
1.      Disusun dengan memperhatikan Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan.
2.      Dikembangkan sesuai dengan mdrasah, termasuk pembagian tugas, mengatasi bila terjadi kekurangan tenaga, menentukan system penghargaan, dan pengembangan profesi bagi setiap pendidik dan tenaga kependidikan serta menerapkannya secara professional, adil dan terbuka.
c.       Pengangkatan pendidik dan tenaga kependidikan tambahan dilaksanakan oleh penyelenggara madrasah.
d.      Madrasah perlu mendukung upaya :
1.      Promosi pendidikdan tenaga kependidikan berdasarkan asas kemanfaatan, kepatutan, dan profesionalisme.
2.      Pengembangan pendidik dan tenaga kependidikan yang di identifikasi secara sistematis sesuai dengan aspirasi individu, kebutuhan kurikulum dan madrasah.
3.      Penempatan tenaga kependidikan di sesuaikan dengan kebutuhan baik jumlah maupun kualifikasinya dengan menetapkan prioritas.
4.      Mutasi tenaga kependidikan dari satu posisi ke posisi lain didasarkan pada analisis jabatan dengan di ikuti orientasi tugas oleh pimpinan tertinggi madrasah yang di lakukan setelah 4 tahun, tetapi bias di perpanjang berdasarkan alasan yang dapat di pertanggung jawabkan, sedangkan untuk tenaga kependidikan tambahan tidak ada mutasi.
e.       Madrasah mendayagunakan :
1.      Kepala madrasah melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pimpinan pengelolaan madrasah.
2.      Wakil kepala Madrasah melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pembantu kepala madrasah.
3.      Guru melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai agen pembelajaran yang memotivasi, memfasilitasi, mendidik, membimbing, dan melatih peserta didik sehingga menjadi manusia bermutu dan mampun mengaktualisasikan potensi kemanusiaannya secara opimum.
4.      Konselor melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dalam memberikan layanan dan bimbingan dan konseling kepada pendidik.
5.      Tenaga administrasi melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dalam menyelenggarakan pelayanan administrative.
G.    Bidang Sarana dan Prasarana
a.       Madrasah menetapkan kebijakan progam secara tertulis mengenai pengelolaan sarana dan prasarana.
b.      Progam pengelolaan sarana dan prasarana mengacu pada standar sarana dan prasarana dalam hal :
1.      Merencanakan, memenuhi, dan mendayagunakan sarana dan prasarana pendidikan.
2.      Mengevaluasi dan melakukan pemeliharaan sarana dan prasarana agar tetap berfungsi mendukung proses pendidikan.
3.      Melengkapi fasilitas pembelajaran dalam setiap tingkat kelas di madrasah.
4.      Menyusun skala prioritas pengembangan fasilitas pendidikan sesuai dengan tujuan pendidikan dan kurikulum masing- masing tingkat.
5.      Pemeliharaan semua fasilitas fisik dan peralatan dengan memperhatikan kesehatan dan keamanan lingkungan.
c.       Seluruh progam pengelolaan sarana dan prasarana pendidikan disosialisasikan kepada pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik.
d.      Pengelolaaan fasilitas fisik untuk kegiatan ekstra kurikuler disesuaikan dengan perkembangan kegiatan ekstra kurikuler peserta didik dan mengacu pada standar sarana dan prasarana.

H.    Bidang Keuangan dan Pembiayaan
a.       Madrasah menyusun pedoman pengeblolaan biaya investasi dan operasional yang mengacu pada standar pembiayaan.
b.      Pedoman pengelolaan biaya investasi dan operasional madrasah mengatur :
1.      Sumber pemasukan, pengeluaran, dan jumlah dana yang di kelola.
2.      Penyusunan dan pencarian anggaran, serta penggalangan dana di luar dana investasi dan opearsional.
3.      Kewenangan dan tanggung jawab kepala madrasah dalam membelanjakan anggaran pendidikan sesuai dengan peruntukannya.
4.      Pembukuan semua penerimaan dan pengeluaran serta penggunaan anggaran untuk di laporkan kepada komite madrasah dan institusi diatasnya.
c.       Pedoman pengelolaan inbvestasi dan operasional madrasah di sosialisasikan kepada seluruh warga madrasah untuk menjamin tercapainya pengelolaan dana secara transparan. 

















BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
·         Manajemen berasal dari kata "to manage" yang berarti mengatur, mengurus atau mengelola.
·         Kata "madrasah" dalam bahasa Arab adalah bentuk kata "keterangan tempat" (zharaf makan) dari akar kata "darasa". Secara harfiah "madrasah" diartikan sebagai "tempat belajar para pelajar", atau "tempat untuk memberikan pelajaran".
·         Selama ini madrasah dianggap sebagai lembaga pendidikan Islam yang mutunya lebih rendah daripada mutu lembaga pendidikan lainnya, terutama sekolah umum, walaupun beberapa madrasah justru lebih maju daripada sekolah umum. Namun, keberhasilan beberapa madrasah dalam jumlah yang terbatas itu belum mampu menghapus kesan negatif yang sudah terlanjur melekat.
·         Praktik manajemen di madrasah sering menggunakan model manajemen tradisional. Dominasi senioritas jelas mengganggu perkembangan dan peningkatan kualitas pendidikan. Munculnya kreatifitas dan inovasi dari kalangan muda terkadang dipahami sebagai sikap yang tidak menghargai senior. Kondisi ini mengarah pada penilaian negatif, sehingga muncul kesan bahwa meluruskan atau mengoreksi kekeliruan langkah senior dianggap sebagai sikap su’al-adab.
·         kepentingan pertama mengemban misi dakwah, kepentingan kedua mengemban misi pendidikan, sedangkan kepentingan ketiga mengemban misi pembaharuan. Madrasah menyusun progam pendayagunaan pendidikan dan tenaga pendidikan, Dikembangkan sesuai dengan mdrasah, termasuk pembagian tugas, mengatasi bila terjadi kekurangan tenaga, menentukan system penghargaan, dan pengembangan profesi bagi setiap pendidik dan tenaga kependidikan serta menerapkannya secara professional, adil dan terbuka.
·         Seluruh progam pengelolaan sarana dan prasarana pendidikan disosialisasikan kepada pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik.
·         Madrasah menyusun pedoman pengeblolaan biaya investasi dan operasional yang mengacu pada standar pembiayaan.
















DAFTAR PUSTAKA
Ø  Usman, Husaini, Manajemen Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan, Jakarta : Bumi Aksara, 2008.
Ø  Prof. Dr. Mujamil Qomar, Manajemen Pendidkan Islam Strategi Baru Lembaga Pendidikan Islam, Erlangga.


0 komentar:

Poskan Komentar