Pages

Rabu, 02 Mei 2012

SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM


                 MAKALAH
Kehidupan guru dan siswa pada masa islam klasik
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah ”Sejarah  Pendidikan islam Dunia


Dosen Pembimbing:
Prof.Dr.Imam Fu’ady M.Ag
NIP:150 269 566
 












Disusun Oleh :
M. NURUDIN
JURUSAN                                : TARBIYAH
PROGRAM STUDI                 : PAI - C
SEMESTER                               : II

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) TULUNGAGUNG
2010


KATA PENGANTAR

Teriring do’a sebagai seorang hamba, segenap ikhtiar sebagai seorang khalifah, dan segala puji syukur hanya milik Allah SWT, Tuhan semesta alam, yang menaburkan kehidupan dengan sarat hikmah. Dengan limpahan rahmat, inayah dan ampunan-Nya, penulis diberikan kekuatan menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Sholawat dan salam senantiasa kita sanjungkan kepada manusia terbaik, Nabi Muhammad SAW, sang penerang umat, juga kepada keluarganya yang mulia, sahabatnya yang tercinta, dan umatnya yang setia hingga akhir zaman. Semoga kita mendapat syafaat-nya. Amiin.
Penulis menyadari bahwa makalah ini  tidak terlepas dari bantuan dan partisipasi dari berbagai pihak, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1.       Prof. Dr. Mujamil Qomar, M.Ag, selaku Ketua STAIN Tulungagung
2.       Prof.Dr.Imam fu’ady,M.Ag,  selaku dosen pembimbing
3.       Semua pihak yang ikut berpartisipasi dalam penyelesaian studi kasus ini.
                Sebagaimana pepatah yang menyatakan tiada gading yang tak retak, maka penulisan makalah inipun tentunya banyak dijumpai kekurangan dan kelemahannya. Untuk itu kami mohon maaf yang sebesar-besarnya dan mengharap tegur sapa serta saran-saran penyempurnaan, agar kekurangan dan kelemahan  yang ada tidak sampai mengurangi nilai dan manfaat bagi pengembangan studi keilmuan pada umumnya.

                                                                                                     Tulungagung,  21 APRIL  2010
                                                                                                                                 Penulis






                                                                  DAFTAR ISI



HALAMAN SAMPUL ..............................................................................................  i

KATA PENGANTAR.................................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................................ iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakan.......................................................................................... 1
1.2  Rumusan Masalah................................................................................... 1
1.3  Tujuan Pembahasan............................................................................... 1
1.4Batasan masalah....................................................................................... 1
BAB II   PEMBAHASAN
2.1  Kehidupan Para Siswa di masa Islam Klasik............................................... 3
2.2  Kompetensi Mengajar Guru Pada masa Klasik.......................................... 4
2.3 Pranata Sosial dan Guru........................................................................... 6
2.4 Peranan Guru Dalam Kehidupan Masyarakat............................................ 6
2.5 Organisasi Guru Pada Masa Klasik............................................................. 8
2.6 Pola interaksi Guru dan siswa Pada Pendidikan Islam Klasik....................... 8
BAB III PENUTUP
 3.1.Kesimpulan............................................................................................ 12
3.2.Saran...................................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................... 13
Ssaran sssssffgsa3333344fgfkhgkhggTAR 3pustaka



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang masalah
Anak didik merupakan salah satu dari komponmen pendidikan yang berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pendidikann.Tanpa anak didik,pengajaran tidak akan ada dan pendidikan tidak akan terjadi.Sebagai salah satu komponen pendidikan,anak didik mendapat perhatian yang serius dari para ahli pendidikan.Untuk keberhasilan pencapaian tujuan pengajaran kususnya,dan pendidikan pada umumnya,anak didik harus diperlakukan sebagai subyek dsan objek.
Dalam pendidikan islam,guru mempunyai tugas dan tanggung jawab yang berat sekaligus mulia.Dikatakan berat karena guru mengemban kepercayaan yang diberikan oleh masyrakat gunamelakukan fungsi pendidikan.
1.2 Rumusan masalah
1 Bagaimana kehidupan para siswa dimasa islam klasik?
2   Bagaimana kompetensi guru pada masa klasik?
3   Bagaimana pranata sosial dan guru pada masa \klasik?
4   Bagaimana peranan guru dalam kehidupan masyarakat?
5   Bagaimana organisasi guru pada masa klasik?
6   Bagaimana Pola interaksi guru dan siswa pada pendidikan islam klasik?

1.3 Tujuan pembahasan
1      Untuk mengetahui bagaimana para siswa dimasa islam klasik
2      Untuk mengetahui bagaimana kompetensi guru pada masa klasik
3      Untuk mengetahui bagaimana pranata sosial dan guru pada masa klasik
4      Untuk mengetahui bagaimana peranan guru dalam kehidupan masyarakat
5      Untuk mengetahui bagaimana organisasi guru pada masa klasik
6      Untuk mengetahui bagaimana pola interaksi guru dan siswa pada pendidikan klasik




















BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Kehidupan Para Siswa di Masa Islam Klasik
1.      Karakteristik murid
a.              Pengertian batasan murid
          Murid adalah anak yang sedang berguru, yang memperoleh pendidikan dasar dari satu lembaga pendidikan.
          Di awal perkembangan islam, para penuntut ilmu tidak ada perbedaan. Ketika rosulullah masih hidup, semua sahabat diberi kesempatan yang sama untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman tentang ajaran islam dari rosulullah. Dalam kenyataannya tidak semua sahabat dapat memenfaatkan kesempatan untuk menimba ilmu dari beliau.
          Pada masa klasik tidak ada ketentuan pasti tentang batasan bagi seseorang yang mau belajar di kuttab. Para murid yang memasuki lembaga dasar ini berfariasi. Ada murid yang mulai memasuki kuttab berumur 5 tahun, ada yang berumur 7 tahun dan bahkan ada yang berumur 10 tahun.
b.             Biaya dan lama belajar
          Biaya selama belajar di kuttab pada dasarnya dibebankan kepada keluarga murid. Orang tua murid membayar dengan sejumlah uang yang di bayar pada setiap minggu atau setiap bulan. Terkadang pembayaran itu di lakukan dengan sejumlah bahan makanan sebagai pengganti uang.
          Lama belajar di kuttab tergantung kemampuan anak didik. Murid yang cerdas dan rajin dapat menyelesaikan belajarnya dalam waktu yang relatif singkat. Sebaliknya anak atau murid yang kurang cerdas dan malas memekan waktu agak lama untuk menyelesaikan pelajaran. Meskipun demikian, umumnya masa belajar di kuttab kurang lebih 5 tahun.
2.  Keadaan murid
          Menurut mahmud yunus, para murid di kuttab belajar 6 hari dalam seminggu. Pelajaran di mulai pada hari sabtu dan berakhir pada hari kamis. Waktu belajar di mulai pada pagi hari dan berakhir setelah sholat ashar. Biasanya sehabis sholat dzuhur para murid pulang kerumah untuk makan.
          Dari uraian tersebut dapat dikatakan bahwa para murid pada siang hari lebih banyak bergaul dengan guru dan para murid lainnya di kuttab. Adapun murid yang berada dalam pemeliharaan seorang guru, pergaulannya dengan seorang guru lebih lama dari murid-murid lain yang harus pulang kerumah setelah pelajaran selesai. Karena itu, dapat diasumsikan bahwa guru yang mengajar di kuttab adalah orang terdekat selain orang tua.
     2.2. Kompetensi mengajar guru pada masa klasik
          Menurut mas’ud khasan abdul qohar kompetensi adalah kekuasaan,wewenang atau hak yang di dasrkan pada peraturan tetentu.sedangkan kompetensi mengajar menurut Uzer Ustman(1992)adalah wewenang guru untuk melaksanakan tugas mengajar berdasarkan persyaratan-persyaratan tertentu.
        Menurut Al-qosqosamdi bahwa syarat untuk menjadi guru pada masa khalifah fatimiyah di mesir secarab umum dapat di golongkan ke dalam dua syarat:
Ø   Syarat fisik :
1)        Bentuk badanya bgus
2)        Manis muka
3)        Lebar dahinya
4)        Bermuka bersih
Ø   Syarat psikis :
1)        Berakal sehat
2)        Hatinya beradap
3)        Tajam pemahamannya
4)        Adil terhadap siswa
5)        Bersifat perwira
6)        Sabar dan tidak mudah marah
7)        Bila berbicara menggambarkan keluasan ilmunya
8)        Perkataannya jelas, mudah dipahami
9)        Dapat memilih perkataan yang baik dan mulia
10)    Menjauhi perbuatan yang tidak terpuji.
          Abdurrahman al-nahlawi (1989) menyarankan agar guru dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, ia harus mamiliki sifat-sifat sebagai berikut :
1.              Tingkah laku dan pola pikir guru bersifat rabbani
2.              Guru harus ikhlas
3.              Guru sabar dalam mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan kepada anak-anak
4.              Guru jujur dalam menyampaikan apa yang diserukannya
5.              Guru senantiasa membekali dirinya dengan ilmu pengetahuan  dan harus meningkatkan kualitas dirinya
6.              Guru mampu menggunakan berbagai metode  mengajar secara bervariasi dan mampu memilih metode sesuai dengan kebutuhan anak
7.              Guru maampu mengelola siswa
8.              Guru mempelajari kehidupan psikis anak selaras dengan tingkat usia perkembangannya, sehingga ia dapat memperlakukan siswa sesuai dengan kemampuan akal dan kesiapan psikis mereka
9.              Guru tanggap terhadap berbagai kondisi dan perkembangan dunia yang mempengaruhi perkembangan jiwa anak
10.          Guru bersikap adilkepada semua anak didiknya, tidak membedakan antara satu dengan yang lainnya.


2.3.                      Pranata sosial dan guru
          Menurut al-jahiz (dalam ziauddin alavi, 1988: 69) guru dapat diklasifikasikan ke dalam tiga golongan adalah :
a)             Guru-guru yang mengajar sekolah kanak-kanak (mu’alim al-kuttab)
          Para mu’allim kuttab (guru sekolah kanak-kanak) mempunyai status sosial yang rendah. Hal ini disebabkan oleh kualitas keilmuan mereka yang dangkal dan kurang berbobot. Mereka dituduh menyebabkan lahirnya image (kesan) yang kurang baik terhadap profesi guru. Di kota palermo terdapat kurang lebih 300 orang guru mu’allim al-kuttab yang kebanyakan diantara mereka menderita sakit sawan, ceroboh dan bodoh. Namun demikian, tidak semua mu’allim al-kuttab ceroboh dan bodoh. Ada sebagian diantara mereka yang ahli dalam bidang sastra, ahli khat, dan fuqaha’. Mereka inilah golongan guru mu’allim al-kuttab yang dihormati dan di hargai seperti al-hajaja, al-kumait, abdul hamid al-katib, atha’ bin abi rabah dan lain-lain.
b)             Para guru yang mengajar para putera mahkota (muaddib)
          Berbeda dengan mu’allim al-kuttab, para muadib mempunyai status sosial yang tinggi, bahkan tidak sedikit par ulama yang mendapat kesempatan  untuk menjadi muadib. Hal ini disebabkan untuk menjadi muadib diperlukan beberapa syarat, diantaranya adalah alim, berakhlak mulia dan dikenal masyarakat.
c)             Para guru yang mengajar di masjid-masjid dan sekolah-sekolah (ustadz)
          Seorang guru dalam golongan ini telah beruntung sekali mendapatkan kehormatan dan penghargaan tinggi di hadapan masyarakat.
2.4.                  Peranan guru dalam kehidupan masyarakat
          Guru merupakan sosok penting, yang tidak perlu diragukan lagi keberadaanya dalam kehidupan masyarakat. Sosok jiwa yang bersih sepi ing pamrih senantiasa menjadi dambaan masyarakat. Guru-guru pada masa klasik selalu di kelilingi oleh  para siswa yang datang  dari berbagai pelosok wilayah dunia yang bertujuan mendengarkan langsung kajian yang dibawakan oleh gurunya. Tidaklah mengherankan apabila sosok individu guru yang alim dan terkenal lebih dominan dari pada pendidikan yang formal. Tokoh-tokoh istimewa tertentu, yang telah mempelajari hadits dan membangun sistem teologi serta hukum yang berlaku di kalangan mereka, senantiasa menarik perhatian murid-murid dari daerah yang jauh dan dekat untuk menuntut ilmu pengetahuan dari mereka. Maka ciri utama pada masa ini adalah pentingnya peranan individu guru.
          Sudah menjadi tradisi pendidikan islam pada masa klasik, bahwa gur tidak pernah membatasi kapan murid harus selesai belaja kepadanya, kecuali ia telah menyelesaikan (khatam) kitab yang dikajinya. Murid diberi kebebasan untuk belajar kepada siapa saja dan kapan saja,dan bahkan guru tidak pernah menawarkan pelajaran secara khusus yang harus diselesaikan oleh murid pada waktu tertentu. Namun tidak berarti guru bebas melepaskan muridnya kemanapun ia pergi dan mencari ilmu. Guru tetap bertanggung jawab atas  keberhasilan murid yang pernah belajar kepadanya. Hal ini sebagaimana yang telah diungkapkan oleh aljarnuzi dalam kitabnya Ta’lim al-muta’alim bahwa untuk mendapatkan ilmu pengetahuan membutuhkan arahan guru.
          Selain itu guru juga bertanggung jawab atas masyarakat yang berada di sekitar madrasah. Karena keberadaan madrasah akan mempunyai dampak yang positif bagi masyarakat manakala madrasah dapat membantu memainkan peranan dalam pembangunan masyarakat. Selain itu, guru juga mempunyai tanggung jawab dalam memantau perkembangan anak didik yang berada dilingkungan masyarakat sekitar madrasah. Bagaimana pergaulan anak dan peranan apa yang dapat dimainkan anak. Guru mempunyai tugas mengontrolnya sekalipun guru sendiri secara sosiologis punya kewajiban untuk menjadi dinamisator dalam kehidupan masyarakat.
          Tidaklah heran apabila guru pada masa klasik ini disebut dengan teacher oriented, karena guru mempunyai peranan yang amat penting dalam proses pendidikan anak, mulai dari menentukan perencanaan sampai melaksanakannya.
          Pada masa klasik, para muaddib, muallim, dan ustadz mampu mamainkan peranannya dalam kehidupan masyarakat dengan cara bergabung dalam institusi-institusi keilmuan dan perkumpulan-perkumpulan pribadi yang mereka bangun. Mereka melakukan transformasi keilmuan secara ekstensif melalui dialog dan praktik-praktik secara terbuka guna mendidik tenaga profesional dalam bidangnya, seperti zakaria al-razi, yang mendidik tenaga profesional sambil melakukan praktik kedokteran dan menangani pasien di rumah sakit. Hal ini ia lakukan untuk melatih tenaga muda yang profesional agar dapat mengabdikan dirinya dalam kehidupan masyarakat.
2.5. Organisasi guru pada masa klasik
          Dalam hal pemerintahan, guru mempunyai pengaruh yang amat penting dalam pemerintahan, bahkan kekuasaannya mempunyai andil yang besar dalam kekuasaan khalifah, selain itu organisasi guru dapat dijasikan corong untuk menyebarkan ajaran atau aliran yang dianut oleh pemerintah. Hal ini tampaknya tidak terlalu berlebihan, karena guru terhimpun  dalam suatu organisasi yang mempunyai power yang dapat mengendalikan kepentingan khalifah khususnya dalam hal pengangkatan dan pemberian izin untuk menjadi pengajar di suatu masjid.
2.6 .Pola interaksi guru dan siswa pada pendidikan islam klasik
1        Gambaran interaksi rosulloh dan sahabat pada periode awal pendidikan islam
          Pada pola pertama, nabi melaksanakan pendidkan terhadap umat sebagai dakwah terhadap risalah yang di bawanya yang memeliki nilai ibadah dihadapan aloh swt. Nabi menjalankanya dengan tulus iklas tanpa menuntut materi dari dakwah yang dilakukan sikap ini juga ditanamkan oleh nabi kepada para sahabat dalam mengikuti dakwah nabi.
Pola kedua, nabi langsung menjadi guru umat dan model dari akhak yang diinginkan. Dengan demikian, umat langsung dapat bentuk yang diinginkan al-quran dari sikap rosulloh sehari-hari.
          Dalam keseharianya nabi sangat dihormati dan para sahabat  mendudukan nabi pada posisi yang tinggi, tetapi nabi tetap bersikap tawaduk.
2        Pola sikap guru dan siswa pada pendidikan islam klasik
        Pola sikap guru terhadap siswa dalam interaksi edukatif pada pendidikan islam klasik diantaranya :
a.              Pola keiklasan
          Pada pola ini siswa diharapkan mampu menguasai ilmu pengetahuan yang di ajarkan tanpa mengharapkan imbalan materi dan menganggap interaksi tersebut berlangsung sesuai dengan panggilan jiwa untuk mengapdikan diri pada alloh dan mengemban amanah yang dia amalkan.
b.              Pola kekeluwargaan
          Pada pola kekeluargaan guru memposisikan dirinya dan siswa seperti orangtua dan anak. Artinya, mereka mempunyain tanggung jawab yang penuh dalam pendidikan tersebut, dan mencurahkan kasih sayang seperti menyayangi anak sendiri.
c.              Pola kesederajatan
          Pada pola ini guru senantiasa memunculkan sikap tawaduk terhadap siswanya. Pola interakasi seperti ini membuat guru menghargai potensi yang dimiliki anak didiknya. Sikap tawaduk yang dimiliki, membuat guru tidak bersikap diktator atau merasa lebih benar
d.              Pola al-uswah al-hasanah
          Pada pendidikan islam klasik, interaksi antara guru dan siswa tidak hanya pada proses belajar mengajar, tetapi juga pada masyarakat. Dengan demikian siswa dapat melihat gambaran yang diinginkan guru.
3        Pola sikap siswa terhadap guru dalam interaksi edukatif
a.              Pola ketaatan
          Ketaatan siswa terthadap gurunya membawa barokah dalam proses pencarian ilmu yang merupakan upaya mencari ridhonya (kerelaan hati), dan yang harus dilakukan sebagai seorang siswa adalah menjauhi amarah guru, dan menjunjung tinggi perintahnya selama tidak bertentangan dengan agama.
b.              Pola kasih sayang
          Menurut ibn maskawaih, kewajiban cinta siswa terhadap guru berada diantara cinta terhadap alloh dan cinta kepada orang tua, karena menurut ibn maskawaih, guru merupakan penyebab eksistensi hakiki kita dan pentebab kita memperoleh kebahagiaan sempurna.
          Bertolak dari penjelas di atas, kita dapat mengetahui karakteristik pola sikap guru dan siswa dalam interaksi edukatif, yaitu :
1)         Memberikan penghargaan yang tinggi pada kesucian batin yang tercermin pada kesadaran sosial dan usaha-usaha idealistik yang ditujukan pada penguasaan setiap kecakapan yang menjadi tuntutan tugas seseorang;
2)         Interaksi antar guru dan siswa dalam proses belajar mengajar dipandang sebagai kewajiban agama.
3)         Adannya hubungan pribadi yang dekat antara guru dan siswa, menjamin keterpaduan bimbingan rohani dan akhlaq, dengan pengajaran sebagai keterampilan.
4)         Interaksi guru dan siswa tidak hanya terjadi dalam proses belajar mengajar, tetapi interaksi tersebut tetap berlangsung di tengah masyarakat.
5)         Adanya keseimbangan antara interaksi guru dan siswa pada pendidikan islam klasik.
6)         Pola yang ada merupakan pengembangan interaksi yang terjadi pada zaman rosululloh.











BAB III
PENUTUP

3.1.Kesimpulan
          Karena tidak adanya ketentuan yang tegas tentang masalah umur yang bisa memasuki tingkatan kuttab, hal ini menimbulkan murid yang belajar di kuttab umurnya bervariasi. Murid yang miskin bisa belajar di kuttab dengan Cuma-Cuma. Waktu yang di gunakan belajar di kuttab cukup lama, dari pagi hari sampai selesai shalat ashar. Lamanya waktu yang digunakan untuk belajar, hal ini memungkinkan guru membina murudnya dengan baik. Murid-murid yang cerdas akan dapat menyelesaikan pelajaran relatif lebih cepat, dan selanjutnya mereka meneruskan pelajaran di halaqah masjid jami’ atau madrasah. Ukuran kelulusan seorang murid adalah kemampuan menghafal alqur’an.
          Dalam status sosial guru sangat ditetukan oleh kualitas keilmuan dan kepribadian masing-masing. Mereka yang mempunyai kompetensi mengajar yang kualifaid serta dapat memegang amanah keguruan dengan baik, ia akan mendapat kehormatan dan penghargaan yang setinggi-tingginya dari masyarakat.
3.2.Saran
          Dalam pembuatan makalah ini tentunya masih banyak terdapat kekeliruan baik dari segi penulisan maupun penyusunan kalimat maka dari itu kritik dan saran dari pembaca terutama dari bapak maupun ibu dozen sangat kami oerlukan supaya dalam pembuatan makalah yang berikutnya bisa akan lebih baik lagi.


DAFTAR PUSTAKA
·         Nata,Abudin,2004,Sejarah Pendidikan Islam Pada Periode Klasik dan Pertengahan,Jakarta:PT Raja Grafindo Persada
·         Suwito,2005,Sejarah Sosial Pendidikan Islam,Jakarta:Prenada Media

0 komentar:

Poskan Komentar